HIBURAN

Tepian Mahakam Kenanganku
By. Susanto Miady

Miady dari jauh terlihat gontai, tidak memiliki semangat, bermalasan itulah kemauannya. Yadi, Upik, Harianto, Melody jadi ikut-ikutan lesu. Bangku panjang yang berada di depan kampus menjadi arena panggung patung. Mely dan Intan yang melintas didepannya heran.
“He, To, Dy. lagi demo yah. Kok disini, didepan kampus sono. Disini mana bisa dilihat atau didengar dosen-dosen.”
“ Iya. Lagian ada apa sih ? ada masalah serius banget sampe dilamunin. Segitunya, manja kalian memang ! Masukan tuh.”
“ Ha… “ helang nafas” Masuk sendiri sana. Emangnya aku anak kecil apa ? Aku denger tahu,” omel Upik. Ia baru tersadar, setelah mely dan Intan menghilang dari hadapannya. “ Eh kok aku jadi ngelamun yah. He, Yadi, Melody, To, kok jadi ikut-ikutan Miady ngelamun.”
Yadi menepuk pundak Miady. “ Ada apa man ?”
Miady menoleh sebentar lalu membuang pandangan ke depan dengan tatapan kosong. Hatinya berbisik agar tidak menceritakan masalah keluarganya. Dari raut wajahnya miady seolah telah berkata bahwa masalah kali ini bergitu serius dan tidak bisa dianggap enteng.
“ Pasti masalah keluarga. Ada apa lagi sih.” Tebak yadi. Kedua Alis matanya naik tanda prihatin dan mengeluhkan sikap miady yang selalu membuat masalah kecil menjadi besar.
“Ini tentang aku. Sampai kuliah semester 5 pun aku juga belum punya pacar. Aku malu sama kamu Yadi, Upik, Harianto dan Melody. Aku merasa tidak menarik bagi cewek yah.Padahal aku sudah berusaha, tetapi selalu gagal. Entah kenapa kalau aku berada didepan cewek lidahku kaku, ngomong jadi gagap. Apalagi kaki nih tiba-tiba bergetar tidak henti-hentinya.”
“ Sabar, kalau sudah ketemu jodohnya pasti tidak kemana ? asalkan kita terus berusaha. Jangan pernah kenal putus asa. Angap kegagalan pertama bearti kesuksesan yang kedua, atau jika kedua juga gagal berarti kesuksesan yang ketiga dan seterusnya.” Upik bangkit berdiri dihadapannya menyemangati.
Yadi menyelami raut wajah Miady, pikiranya tertuju pada keadaan rumah tangga Miady beberapa waktu lalu yang pernah ia saksikan dan dengarkan sendiri. Dengan instingnya ia mengatakan kalau bukan masalah ini yang sedang dihadapinya. “ Sudalah Miady. Tidak usah menghibur diri sendiri.”
Miady perlahan menatap yadi yang berada didekatnya sepertinya yadi yakin apa yang barusan dikatakannya. Ia merasakannya. Begitu juga Upik, miady juga mengira sudah tahu, makanya ia selalu memberikan semangat.
“ He, kok jadi serius ini sih. Yadi, emangnya kamu tahu yah sebenarnya terjadi pada Miady.” Tanya Harianto.
“ Jika semuanya tidak saling terbuka tidak apa-apa. Toh itu privasi, tapi kita kan sekarang dikampus. Apa kita tidak bisa melupakan semuanya sebentar dan bersenang-senang. Setelah kita keluar dari sini silahkan. Mau nangis sekeras-kerasnya juga boleh, mau marah silahkan luapkan. Setuju..” melodi berusaha menghidupkan suasana dengan menjadi cahaya penerang teman-temannya.
Miady sejenak merenung, ditatapnya melodi yang begitu serius akan ucapannya. “ kau benar Odi, Yuk masuk kelas udah dimulaih nih. Kita memang harus semangat,” Miady menganguk-anguk mencoba menunjukan pada teman-temannya kegembiraan yang sebenarnya.
Yadi mengikuti dibelakanganya. Ia masih memikirkan persoalan yang sedang dihadapi Miady. Hatinya selalu berbisik. (Miady kau mencoba untuk tegar dan tetap tersenyum dedepan kita semua. Tetapi sebenarnya hatimu keropos, lapuk dan menderita. Aku sangat merasakannya. Aku sebenarnya mau menangis, tetapi air matakku seolah kering.) bathinya.
Paruh waktu dosen memberikan kualiahnya,Yadi ijin keluar ke kamar kecil. Tetapi diujung ruangan ia berbelok menuju kekantin. Sebatang rokok dari balik bajunya, disulutnya.
“ Bu, Susu kopinya 2.” Dari wajahnya tertulis, kalau saat ini ia sedang memikirkan masalah Miady. Jiwa sosialnya itu tidak bisa dibendungnya untuk membantu sahabatnya.(Aku harus mencari tahu, ada apa yang sebenarnya terjadi.) bathinya.
Mely, Intan setelah ke kamar kecil menyepatkan kekantin untuk melepas kejenuhan. Ternyata Yadi juga ada dikantin.
“ Hari ini pusing banget yah kuliahnya.” Kata mely keras-keras agar yadi mendengarnya.
“ Iyah. Kamu pusing juga Yadi,” sela Intan.
“ Aku lagi bingung, Miady sepertinya ada masalah besar sedang ditutupinya. Akukan tahu Miady orangnya nekatan. Aku hanya kawatir dia akan melakukan hal-hal gila.”
“ Misalnya apa Yadi, “ tanya Mely.
“Bunuh diri. Soalnya ia pernah cerita dulu. Katanya ia pernah akan melakukan bunuh diri.”
“ Masalah apa yang membuat Miady nekad seperti itu.” Tanya Intan.
“ Itu die tan, aku gak tahu. Soalnya dia selalu hanya cerita hampir bunuh diri, tetapi gak jelasin kenapa. Aku bilang apa gara-gara cewek ia geleng-geleng, masalah keluarga juga sama. Makanya aku bingung.”
“ Yadi, coba kamu ajak dia ke Tepian mahakam. Santai sambil ngobrol biar pikirannya plong. Mulailah saling cerita, dan pancing-pancing agar Miady mau cerita.”
“ Yah eluh Mel, kaya gak tahu Miady saja.”
“ Cara itu sangat bagus, Yadi. Coba saja. Kalau kita biasanya asyik ngobrol biasanya kita keceplosan, ceritaian hal-hal yang paling pribadi. Padahal hal itu telah dipendam dalam-dalam.”
“ bener juga Tan, okelah.” Yadi bangkit.
“ mau kemana ?” teriak mely.
“ kembali kekelas, sekalin bayarin yah kopi susuku, thanks yah mely, Intan atas sarannya dan susu kopinya.”
“ Hu….. resek.” Gumam Intan dan mely.
“ Kita dikerjain hari ini.” Celoteh Mely.
Semua berkumpul di sebuah kafe ditepian mahakam tepatnya di depan kantor Gubernur Kaltim ada Miady, Yadi & Mirta, Upik & Lisa Harianto & Yani, Melody & Selvi. Pemandangan malam ini begitu berbeda dengan hari-hari sebelumnya terlihat ramai, padahal hari rabu bukan malam minggu.
Bersambung ......